Jadi Maunya Apa?
Baca-baca tulisan saya disini, baru sadar, saya banyaknya nulis dalam bungkusan supertebal. Maksudnya sih cerita. Ceritain perasaan, pengalaman sehari-hari saya. Tapi semuanya dibungkus pake kardus tebal, penuh debu lagi. Bentuknya maksud saya sih puisi, atau prosa mungkin. Saya nggak paham-paham amat. Yang pasti, akhirnya cerita saya semuanya nggak pernah terlalu ketangkep dengan baik maksudnya. Dan…. sebenernya memang itu sih tujuan saya nulis dengan cara kayak gitu. Buat ngungkapin sesuatu yg saya rasa atau alami, tapi di saat yang bersamaan nggak mau orang yg (sial) baca ngerti, dan tau. Mengungkapkan dan merahasiakan di saat yang bersamaan.
Di sini saya mau cerita tapi nggak berani telanjang. Saya bagikan dengan malu-malu. Bahkan lebih tepatnya dengan begitu pengecut.
Eh itu kan menurut saya ya nggak jelas. Apa jangan-jangan sebenernya malah jelas banget maksud dari tulisan-tulisan saya disini? Waduh.
Punggung
Aku rindu hari-hari ketika kita saling berbicara dengan punggung. Kamu dengan punggungku. Aku dengan punggungmu. Karena ketika kita bicara dengan punggung yang kita percaya cuma kata, suara, dan hening di antaranya. Karena ketika kita bercerita-tertawa-saling ejek dengan punggung, mata kita tak mungkin menyeret-nyeret isi hati kita ke tengah jalan raya. Kesukaan kita tak akan menggantung di lampu merah. Kebencian kita tak akan berdiri di trotoar. Karena saat-saat kita masih bicara dengan punggung, senyum adalah akhir pekan dan mata-mata bertemu setiap lebaran datang.
Sudah terlalu banyak langit yang kaubakar yang abunya mengisi celah-celah kosong. Di antara semua celah, ada dua celah yang tak bisa terisi lagi. Satu di balik punggungku. Satu di balik punggungmu.
Uninstall
Sudah waktunya papan dilipat. Dadu-dadu diangkat. Menang sudah punah. Yang sisa kalah. Menyisi, tak semua pertanyaan harus kamu isi. Sudah waktunya AC semakin dingin. Pertama-tama, kamu mungkin akan merasa semua tenaga jadi basi. Seluruh urat-urat yang work out di pikiranmu basi. Telinga hening. Jarak memuai. Lagu-lagu bercerai. Suatu saat nanti, kelakar akan usai sebelum dimulai.
Sudah sampai.
Sampai.
Sudahi.
Mencari Pulang
Hujan pulang ke kamar motel tanpa ranjang
Menyisakan jalan basah
Jalan, bukan pipi
Tentang barisan ekspektasi tak bersahutan
Ya begitu, harapan selalu merantai
Aku mau kamu mau dia mau aku
Besok paginya jalan kering sebagian
Got-got Jakarta itu kotor bau penuh kekecewaan yang mampet
Katanya hidup itu memang tentang mau yang berkejaran tanpa ujung
Dia mau kamu mau aku mau dia
Sementara pergi semakin dekat
Tak ada pulang malam ini
Menunggu Pesanan
Suara motor
Tukang antar
Mengirim yang tak pernah dipesan:
suka mual blended
Aku suka caramu membakar langit
Waktu itu banjir di tv lebih nyata daripada di kelurahan sebelah
Mual, dramanya bikin langitku patah-patah
Awannya putus-putus
Petir menyupir, seperti klakson metromini di belokan melawai
Menunggu…
Pesanan yang tak pernah diantar:
Peduli setan smoothie
Ekstra es
Seabu-abu ini
Pada suatu malam sebelum pagi seharga lima puluh ribu rupiah. Dulu semua lelah kubekukan baik-baik di word 97-2003 document, meski lebih sering di rich text format yang waktu itu dokumennya kunamakan dengan nama mata kuliahku. Ini ya rasanya mendengar lagu rock berdebum-debum di telinga dengan hati bernada minor. Kupingku arctic monkeys, hatiku pop melayu. Rasanya seperti makan gulali dengan rasa pedas di lidah. Seharusnya aku ketik itu list untuk besok bertemu calon partner kerja baru, dan beberapa hal lagi yang aku tulis di any.do. Buat weekly report. Tulis pengantar microsite. Tulis artikel community. Google analytics. Dan masih banyak lagi di daftar tomorrow, upcoming, someday, dan banyak banyak lagi di kepalaku. Semua gesture-mu penuh pretensi. Kantong muntah mana kantong muntah. Aku tak pernah lupa pengalaman pertama kali aku makan pecel lele (aku makan ayamnya) diajak oleh kakakku. Bagaimana aku diajarkan cara mencuci tangan sehabis makan dengan cuma kobokan dan jeruk nipis tadi tidak amis. Lap terlebih dahulu tangan yang penuh bumbu dengan tisu, baru masukkan ke dalam kobokan, peras jeruk nipis di tangan, keringkan dengan tisu. Satu set instruksi yang masih aku gunakan belasan tahun setelahnya setiap kali makan di tenda pecel lele. Oh, hati bisa seabu-abu ini ya.
You Just Can’t
You just can’t simply put too much superlatives in your writing to make it real
and engaging
Very and so much are never enough
You just can’t simply said that you like something so you can do it
Interest is not enough, unfortunately
You need to put some humility to your glass of coffee
And buy a single well-function ear at the nearest human organs shop
But if there’s a day when you ask me any words of suggestion
I think you can just simply talk
With no bluff
Dipuisi
Setelah lama tak mampu menulis puisi
Anggap saja minggu lalu
Pantai dan rumah sakit bertetangga
Haruskah puisi selalu untuk siapa
Siapa yang dituju?
Bolehkah puisi tak untuk siapa-siapa,
tak punya alamat,
melayang-layang saja tanpa tali,
jalan lunglai di tengah kota dan tersedak knalpot,
tersesat di pasar,
transit di halte-halte transjakarta.
Puisiku kereta tanpa stasiun
Tiketnya tak pernah dicetak
Karena kamu terlalu dekat dan terlalu jauh untuk dipuisi.
Lalu Lantas
Sore tadi. Di alfamart yang tidak terlalu alfa dibanding indo. Sepi begitu brutal merampas riuh. Tawa terlalu cepat ditelat sabun cair dan teh botol. Fatmawati padat. Terlalu rapat untuk mengelap keringat. Seperti fx di kamis malam yang penuh warga berkeringat. Pelan-pelan aku mengubur kepala di samping eskalator. Minggu di tahun baru. Besok malam kita harus pakai helm. Siapa yang tahu kapan kocokan dadu akan berangka sama lagi. Siapa yang tahu kapan dadu melempar kita ke lantai yang sama lagi. Makan malam pipi kiri, kita turun setelah senayan.
wastoo:
Halo teman-teman,
Pernah ke Bogor? Tau kota Bogor? Atau tingal di Bogor?
Tau kan kalo Bogor kota hujan?
Kalo hujan pasti dingin.
Kalo dingin butuh pelukan, butuh segelas teh hangat, butuh rumah untuk berteduh, butuh keluarga untuk saling menghangatkan.
Tapi sayangnya diluar sana masih…